Sabtu, 30 September 2017

ANEMIA

ANEMIA

Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan. Faktor penyebabnya yaitu kehilangan darah dan kekurangan nutrisi.
Anemia dapat terjadi karena :
1.Kehilangan darah yang berlebihan melalui perdarahan
2.Penurunah sel darah merah (hemolisis)
3.Penurunan produksi sel darah merah akibat kegagalan sumsum tulang merah.
4.Infeksi seperti malaria
5.Kekurangan asupan zat besi, asa folat, dan vit. B12
6.Kehamilan.
JenisJenis anemia

1. Anemia Mikrositik (sel darah merah kecil)
  Anemia ini ditandai dengan sel darah merah yang kecil. Terdapat beberapa anemia mikrositik, misalnya anemia defisiensi besi.
  Anemia defisiensi besi terjadi akibat :
a.Defisiensi besi akibat diet
b.Kehilangan zat besi melalui perdarahan
c.Absorpsi zat besi yang bruuk dari saluran gastrointestinal setelah gastrektomi.
d.Peningkatan kebutuhan seperti masa pertumbuhan dan kehamilan.
Anemia defisiensi besi terjadi ketika kebutuhan akan besi didalam tubuh melebihi persediaan, anemia terjadi secara lambat dalam 3 tahap ;
1.Cadangan besi ditubuh menurun, namun eritropoiesis terus berjalan secara normal
2.Transportasi zat besi ke sumsum tulang berkurang mengakibatkan defisiensi perfusi sel darah merah.
3.Jumlah sel darah merah mikrositik meningkat dalam sirkulasi, mengganti sel darah merah matur yang normal.
Pasien yang menderita anemia defisiensi besi dapat mengalami :
1.Kuku rapuh
2.Kuku berbentuk sendok (koilonikia)
3.Atrofi papil pada lidah
4.Rambut rapuh
5.Keilosis (pecah pecah pada sudut mulut)
6.Limbung (akibat kekurangan suplai oksigen ke otak)
7.Hipoksia
8.Pika (sangat ingin makan zat yang tidak biasa, seperti tanah liat, kanji, dan batu bara)
9.Sesak nafas (kompensasi psikologis yang tjd akibat kekurangan O2) Kehilangan nafsu makan yang dapat tjd akibat luka pada mulut

1.Lakukan pengkajian secara menyeluruh, termasuk pengkajian resiko yang komprehensif untuk mencegah cedera dari jatuh, sebulum merencanakan perawatan yang tepat.
2.Lakukan transfusi darah, selama transfusi pantau ttv setiap 15 menit selama 1 jam karena treaksi transfusi cenderung terjadi pada 15 menit pertama
3.Anjurkan diet mengenai makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati, dan sayuran. Diet ini harus dianjurkan karena zat besi merupakan kompenen dalam menghasilkan sel darah merah.
4.Anjurkan untuk tidak mengubah posisi secara mendadak, seperti berdidi dengan cepat dari posisi duduk untuk menghindari jatuh dan membahayakan diri mereka akibat limbung
5.Intervensi Farmakologi : Resepkan suplemen besi, seperti Fero Sulfat. Sebelumnya pasien harus diberitahu mengenai efek samping yang meliputi : konstipasi, mual, dan diare serta anjurkan untuk meminum cairan sebanyak 2-3 L/H untuk mencegah konstipasi.
2. Anemia Makrositik (Anemia Megaloblastik / sel darah besar)
  Anemia ini ditandai dengan tidak sempurnanya sintesis asam deoksiribonukleat (DNA) yang menghasilkan sel batang besar yang tidak biasa di dalam sirkulasi. Selain diameter yang meningkat, penebalan dan volume sel juga meningkat .
  Etiologi àDefisiensi asam folat
            Defisiensi Vit B12
  Dua koenzim ini penting untuk maturasi DNA. Vegetarian beresiko mengalami Anemia Makrositik akibat kurangnya Vit. B12 yg ditemukan pada sebagian besar produk daging 

penatalaksanaan  
1.Lakukan pengkajian lengkap
2.Anjurkan diet
1)Defisiensi Asam Folat : anjurkan diet makanan mengenai asam folat dan bagaimana menghindari perusakan asam folat ketika memasak serta anjurkan tentang suplemen asam folat dan cara mengkonsumsinya.
2)Defisiensi Vit. B12 : anjurkan untuk makan makanan yang mengandung Vit. B12 seperti telur, daging, dan produk susu.
3.Lakukan terapi pada pasien yang mengalami defisiensi b12 tanpa faktor intrinsik meliputi injeksi sianokobalamin yang awalnya setiap minggu hingga defisiensi vit. B12 koreksi, kemungkinan setiap bulan.
4.Lakukan transfusi darah pada pasien yang mengalami anemia pernisiosa yang terjadi akibat defisiensi vit. B12 jika mereka mengalami komplikasi seperti gagal jantung.
 
3. Anemia normositik
  anemia ini ditandai dengan sel darah merah yang ukuran dan kandungan hemoglobinnya relatif normal, namun jumlah tidak memadai. Anemia normositik jarang terjadi dibandingkan anemia  mikrositik dan makrositik. Anemia normositik meliputi:
a.Anemia aplastik
b.Anemia hemolitik
c.Anemia sel sabit
a.Anemia aplastik
  Ditandai dengan penurunan seluruh sel darah, seperti SDM, SDP, dan Trombosit. Ketika ketiga sel darah ini menurun kondisi ini disebut dengan pansitopenia
Etiologi
1.penyakit virus seperti hepatitis dan hiv
2.Radiasi ionisasi
3.Metastasis
4.Obat sitotoksik
5.Senyawa kimia, co. benzena 

Gejala

1.Kelemahan
2.Keletihan
3.Pucat yang disebabkan anemia
4.Petekie (perdarahan kecil dibawah kulit)
5.Ekimosis (memar pada kulit)
6.Perdarahan dari membran mukosa hidung, gusi, vagina, dan saluran gastrointestinal dapat terjadi akibat penurunan kadar trombosit.
7.Cenderung mengalami infeksi akibat penurunan hitung neutrofil 

Penatalaksanaan

  Terapi khusus ditentukan oleh penyebab penyakit yang mendasari. Penatalaksanaan meliputi terapi dengan medikasi, modifikasi diet, dan transfusi darah jika perlu.

b.Anemia Hemolitik
  Terjadi akibat perusakan sel darah merah yang prematur sehingga menyebabkan retensi zat besi dan produk lain dari perusakan sel darah merah. Kondisi yang jarang terjadi ini di dapatkan atau diturunkan. Pada anemia hemolitik, sintesis sel darah merah pada sumsum tulang ditingkatkan untuk menyesuaikan sel darah merah yang rusak 

etiologi

1.Sferositosis (kerapuhan membran sel darah merah)
2.Defek Hemoglobin (thalasemia dan penyakit sel sabit)
3.Ketidaksesuaian trasfusi darah
4.Cedera sel langsung akibat obat misalnya natrium klorat
5.Hemoglobinopati (abnormalitas pada struktur Hb)
6.Koagulasi intravaskular diseminatra 

Tanda dan gejala

1.Ikterik, jika perusakan sdm melebihi kemampuan hati untuk melakukan konjugasi dan mengekresikan bilirubin
2.Keletihan
3.Hipoksia akibat kerusakan pengangkutan oksigen
4.Hispnea
5.Limpa dapat membesar pada pasien yang mengalami gangguan hemolitik kongenital 

PENATALAKSANAAN

3. Anemia Sel Sabit
  Anemia ini bersifat herediter, anemia hemolitik kronik ditandai dengan adanya molekul hb yg abnormal. Ketidak normalan ini terjadi akibat mutasi genetik ketika salah satu asam amino menggantikan asam amino lainnya. Hb membentuk sabit ketika oksigen lepas (Metha dan Hoffbrand, 2009)
  Pada kembar heterozigot, anemia sel sabit terjadi jika salah satu anak menurunkan gen hb abnormal dari salah satu orang tua dan hb yg normal dari orang tua lain. Anak tsb memiliki sifat sel sabit dan tidak menyadari keadaan ini hingga terpajan kondisi hipoksik. Sifat ini terjadi pada anak manapun ada kembaran homozigot, anak diturunkan gen abnormal dari kedua orang tua dan menderita anemia sel sabit. 

patofisiologi 

Penyebab bentuk sabit adalah deoksigenasi Hb. Ketika Hb sepenuhnya disaturasi dengan O2, sel darah merah memiliki bentuk yang normal, namun perubahan ini hingga ke bentuk sabit karena kandungan  O2 berkurang. Sel darah merah sabit bersifat kaku dan tidak dapat mengubah bentuk seperti yg dilakukan sel darah merah normal ketika mereka melaui kapiler. Akibatnya, sdm sabit menghambat aliran darah normal yg menyebabkan obstruksi vaskular, nyeri dan iskemia jaringan. 

gejala

1.Nyeri dan pembengkakan yg disebabkan oleh oklusi pembuluh darah yg menyerang tangan dan kaki
2.Priapisme (ereksi pada penis yg menimbulkan nyeri secara terus menerus)
3.Nyeri abdomen jika pemb. Darah abdomen mengalami oklusi
4.Peningkatan insiden infeksi seperti osteomielitis
5.Hipertensi pulmonal
6.Takikardi
7.Dapat terjadi dengan hematuria (darah pada urin) dapat mengelami ulkus statis pada tangan, pergelangan kaki dan kaki.
8.Sel darah putih dan trombosit sering meningkat sehingga menyebabkan vaso oklusi 

penatalaksanaan

1.Berikan beberapa terapi seperti, terapi oksigen, analgetik, dan hidrasi (bagi pasien yg mengalami krisis nyeri)
2.Anjurkan pasien menghindari situasi yg dapat memicu krisis. Faktor resiko meliputi stress emosional, keletihan dan infeksi berat.
3.Berikan terapi dini terapi terhadap infeksi untuk mencegah terjadinya krisis.
4.Monitor tanda-tanda vital setiap 2-4 jam sekali untuk mendeteksi infeksi guna memulai terapi menggunakan antibiotik.
5.Transfusi darah diindikasikan pada pasien yg mengalami sesak nafas akibat hipoksia berat
6.Selama krisis terjadi, terapi cairan penting untuk memperbaiki aliran darah, mengurangi nyeri, dan mencegah kerusakan ginjal dan dehidrasi. 

dAFTAR PUSTAKA
NAIR, MURALITHARAN., PEATE, IAN. (2015) "DASAR-DASAR PATOFISIOLOGI TERAPAN EDISI KE-2" JAKARTA:bUMIMEDIKA 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar